Dalam Talkshow Jumat lalu di Hospital Expo, saya mengawali apa dasar visi "Sehat Itu Murah" sebagaimana menjadi topik Talkshow. Saya mengawalinya dengan mengangkat ihwal harga sebuah lutut kita apabila kita tidak memelihara dan merawatnya.
Tentu bukan kesengajaan, melainkan tentu karena tidak tahu kalau sendi lutut masih memikul beban bobot tubuh berlebihan, termasuk beban yang harus dipikul pinggang, setelah umur mulai uzur.
Sayangnya, banyak yang tidak tahu, karena memang tidak ada yang memberi tahu, kalau sudah umur kepala 5, sebaiknya tidak memilih jogging, berlari, apalagi lompat. Pengetahuan yang sesungguhnya murah ini, menjadi mahal, kalau bukan sangat mahal, apabila masyarakat tidak tahu, sehingga sendi lutut telanjur rusak. Keliru memperlakukan sendi lutut, akibat masih tetap jogging, berlari, main tennis, badminton, volley, dan aktivitas fisik lain yang membebani sendi lutut. Itu yang saya maksudkan dengan visi sehat itu murah. Oleh karena ongkos mengganti satu lutut yang telanjur rusak akibat tidak tahu seharga Rp 200 juta.
Contoh lain, tidak menginjak kerikil tanpa alas kaki sehingga persarafan telapak kaki menderita radang akibat tertekan kerasnya kerikil yang sangat keras selama memikul bobot tubuh. Alasan bahwa itu sebagai refleksologi tidak bisa diterima akal sehat, oleh karena kalau itu suatu refleksologi, tekanan yang diterima telapak kaki yang hanya menekannya dengan jempol tangan, paling kuat 5 Kg saja tekanannya. Namun apabila berdiri di atas kerikil, tekanan itu seberat bobot tubuh.
Karena tidak ada yang memberi tahu, hanya karena mendengar katanya menginjak kerikil tanpa alas, bisa menyehatkan, maka yang semula maunya supaya sehat, malah jadi korban kerusakan saraf telapak kaki. Akibat buruk menginjak kerikil bisa fascitis plantaris yang terjadi. Murahnya pengetahuan yang memberi informasi tidak menginjak kerikil tanpa alas itu, menjadi mahal kalau kita tidak tahu, yakni seharga ongkos menyembuhkan radang saraf telapak kaki.