oleh: Fahri Hamzah.
Terhadap kegalauan, saya memberi kerangka pemikiran kepada para ikhwan dan akhwat. Suatu kerangka sejarah yang kuat dan membu
at kita harus selalu punya harapan dan menatap masa depan dengan keyakinan.
Pertama, warisan Islam dan ummatnya.
Kita adalah ummat terbaik dari risalah akhir zaman dan dibawa oleh
penghulu para nabi dan rasul. Tidakkah ini membuat kita optimis dan
bangga? Rasul SAW tidak saja menyambungkan kita dengan risalah terdahulu
sejak manusia pertama, tetapi juga membawa kita sampai akhir zaman.
Beliau SAW tidak saja memberi kita manhaj tetapi juga meninggalkan
kepada kita ummat dan kota-kota yang kelak menjelma menjadi negara dan
kekhalifahan.
Kedua, mensyukuri negara kita dan menghadapi dunia yg gelisah.
Kita bersyukur karena Allah mentakdirkan kita hidup menjadi warga
negara Indonesia yang aman dan damai. Dari seluruh negara Islam yang
sekarang mendapat cobaan, maka kitalah yang harus memikirkan keadaan
mereka. Dan itu memerlukan kekuatan. Karena dunia yang kita hadapi hari
ini adalah dunia yang mengancam. 25 tahun yang lalu Samuel Huntington
telah menerima benturan ini tetapi sebetulnya itu adalah rencana. Ada
perang besar antara barat dan Islam dan Confusius. Sekarang itu terjadi
karena China melampaui Barat secara material tetapi Islam menantang
barat secara spiritual. Maka terjadilah benturan itu. Ini tidak bisa
dihindari. Kita hanya perlu mempersiapkan diri.
Ketiga, harokah dan partai kita.
Harokah dan Partai Islam di seluruh dunia mendapat cobaan berat.
Sebagian bahkan menjadi musuh negara dan difitnah sebagai bagian dari
gerakan terorisme. Sementara demokrasi Indonesia mendukung iklim
berpolitik dengan berbagai aspirasi termasuk aspirasi Islam di dalamnya.
Maka inilah pekerjaan besar partai kita, masuk ke dalam negara dan
membuktikan bahwa di tangan kita negara akan lebih sejahtera. Partai
harus didorong melahirkan kader-kader cemerlang yang fenomenal sehingga
dengan kader yang menjadi tokoh besar ini banyak simpati publik kita
dapatkan. Selanjutnya partai juga harus memperkuat jaringan struktur dan
sumberdaya pendukung riil partai. Jangan terjebak permainan citra sebab
ia naik dan turun tanpa kendali kita.
Terakhir, pribadi dan keluarga kita.
Kita juga harus punya falsafah yang benar tentang menata hidup kita
pribadi dan keluarga sebab dari sanalah ia dimulai. Dengan segala
wawasan dan kesibukan kita maka kita tidak akan dapat apa-apa jika kita
mengabaikan hak diri dan keluarga. Itulah sebabnya Al-Quran mengingatkan
agar kita "...menjaga diri dan keluarga dari api neraka..." Yang lain
mungkin sulit kita jaga, tapi diri dan keluarga mutlak. Di depan Allah
nanti kita bertanggungjawab masing-masing.
Penutup
Demikianlah kerangka perspektif kita atas perjuangan di dunia ini. Jika
kita berpegang pada sistematika itu maka insya Allah kita akan
proporsional memandang realitas dan tidak galau. Seperti tertib amal
dalam dakwah. Mulailah dari diri, keluarga, masyarakat, negara dan
akhirnya dunia dalam kendali kita insya Allah. Wallahualam. (Ringkasan Pengajian Jarak jauh Jakarta-Eropa, Ahad, 27 Maret 2016).